Jumat, 06 Juni 2014

Durhaka



Kisah si Malin

 …..
Seorang nenek pemukul batu berusia 70 tahun lebih bekerja sebagai pemukul batu karena tak seorang pun dari anak-anaknya yang mau ditumpangi hidup. 

Sepasang suami istri bahu membahu membesarkan anak-anak mereka hingga harta bendanya habis. Begitu usia tua menjelang, para anak dan menantunya tak ada yang berkenan menampung mereka. Suami kembali mencari nafkah dari nol dengan cara mengamen menggunakan tutup botol. Matanya sudah rabun dan pikirannya terguncang. Terkadang dia tak tahu mana rumah orang mana kandang ayam. Demi kekuatannya bertahan dan mendapatkan uang untuk mereka (dia dan istrinya) makan, ia selalu menenggak segenggam obat. Entah berapa banyak rejeki yang masih tersisa.

Sang ibu tinggal sendirian di sebuah rumah, semenjak anak lelaki semata wayangnya menikah dan tinggal bersama isrinya. Jika sang ibu berkunjung sekedar untuk mengetahui kabar anaknya, menantu itu akan berteriak dan berserapah, tak mau menerima kunjungan sang ibu. Buncah rindu tak tertahan membuat sang ibu bak seorang maling yang datang ke halaman rumah, sekedar melihat anaknya atau menengok cucunya. Itu pun hanya berani dilakukan ketika si menantu tak di rumah.

Sepasang suami istri bekerja hingga malam. Karena tak memiliki pembantu, mereka meminta bantuan kepada ibunya. Ibu memasak, mengepel, mencuci pakaian, dan hampir semua pekerjaan rumah tangga dibebankan kepada beliau yang renta. Masih belum cukup, kedua anak yang mendapat limpahan harta dari orang tua kurang bisa menghormati neneknya.
…..

Cobaan itu tak punya rumus matematis, itu rahasia ilahi.
Tak pantas rasanya memberikan tuduhan, “Itulah balasan orang tua yang dulunya durhaka kepada anak”. Lhah, emang kita ini hidup bersama mereka sepanjang usia, hingga tahu dengan pasti siapa yang durhaka dan siapa yang tidak. Ada memang yang beranggapan bahwa kita akan menerima balasan sesuai dengan apa yang kita kerjakan. Balasan itu tidak mutlak akan diberikan di dunia lho. Bisa aja balasan diberikan di dunia karena yang bersangkutan diberi kesempatan untuk menghapuskan dosa-dosanya. Bisa juga, karena “sebiji sawi” yang tetap disimpannya, balasan itu juga disimpan dulu sebagai deposito, dan diberikan nantiii, entah kapan. Kita tak pernah tahu, apakah saat nantiii itu, kita sudah punya banyak persiapan.     

Banyak orang tua, terutama ibu, yang mengalah demi kemauan menantu wanita. Hehehe, cari cermin, ingat sejarah, saya masuk gak ya??? Memang sih, setiap rumah tangga hanya membutuhkan satu “ratu”. Tapiii, tak ada yang salah kan, jika menemani ibu yang sudah renta, membiarkan beliau menikmati waktu yang tak banyak tersisa bersama cucu-cucunya. Padahal kan rejeki dan kewajiban suami masih terikat kepada ibunya meskipun dia sudah menikah.  Andai kata mau, bisa saja si ibu mengulang kisah si Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu. Jika kita masih punya banyak salah kepada orang tua, terutama ibu, namun ibu tak sampai mengutuk, bersyukurlah dan segera perbaikilah.

Seorang pemuda di jaman Rasulullah, bernama Alqamah, susah menjalani sakaratul mautnya,. Dia seorang pemuda yang rajin sholat, puasa, dan sedekah, namun lalai akan perhatian kepada ibunya. Dia lebih memperhatikan istri daripada ibunya. Setelah ibunya ridho, barulah Alqamah ini mampu mengucap La ilaha illallah dengan lancar.

Perkataan seorang ibu yang disampaikan dengan sepenuh hati, seringkali menjadi kenyataan (nasib anak) yang tak disangka-sangka. Ridha orang tua, ridha Allah. Kemarahan orang tua, kemarahan Allah.
Saya sendiri sering tak sependapat dengan bapak dan ibu, tapi sudahlah, bukan untuk meyakinkan siapa yang paling benar, tapi menghentikan debat di saat yang tepat dan menghormati apapun pendapat mereka.
Orang tua akan semakin melemah karena aus oleh usia, pikiran, seperti halnya anak-anak lelah karena masanya serta ingatan nilai hidup terpatri yang tak mudah berubah. Kita semua akan mengalami masa seperti mereka.

Menghormati orang tua itu wajib, apapun kesalahan mereka, karena dosa adalah pertanggungjawaban mereka dengan Allah, bukan dengan kita. Bahkan Nabi Ibrahim masih tetap menghormati orang tuanya, meskipun mereka musyrik, salah satu kejahatan utama dalam beragama. Jadi, jika orang tua kita Muslim, merawat dan mengasuh kita hingga baligh, menikahkan kita, mencintai pasangan dan anak-anak kita, adakah alasan yang lebih kuat untuk tidak menghormatinya? 

Rabu, 04 Juni 2014

Antara Mendengar dan Menyeduh Teh

menyeduh teh

Setahun ini, mungkin lebih, saya banyak mendengarkan tentang banyak hal. Sebagian besar di antaranya memang tentang saya sendiri, karena saya yang membuka obrolan, lalu kemudian ada beberapa “sok cenayang”, dewa lebay, serta para kepo yang turut serta :)

Awalnya sih, saya berniat menghormati hak orang lain, untuk menggunakan kecakapan berbicara tentang isi dalam benaknya, terhadap saya berikut nasib yg sedang saya lakoni. Dan ternyata, mendengar itu tak sekedar butuh telinga, tapi juga butuh hati untuk memaklumi dan otak untuk mencerna.

Ada banyak sekali orang yang lebih suka untuk didengar, tanpa berperilaku sebaliknya. Dan bila bertemu dengan mereka yg cuma mau didengar, saya merasa lagi liat lenong gratis, hehe…
Repotnya, saya yg memilih untuk menjadi pendengar, ditarik ke sana, ditarik ke sini. Begitu mau sedikit ngomong ikut nanggepi, langsung dipotong, suruh dengerin lagi.

Marah?
Nggak lah, pengen cekikikan malah, tapi kok ya gak sopan banget. Kayak majikan aja, maunya di… ga mau me…

Yang lucu lagi, dengan orang-orang yg merasa dia paling benar, trus kalo saya ngajukan pendapat lain, mereka bilang saya ngeyelan. Lho, piye to?
Padahal mengeluarkan argumen kan harusnya didasarkan data dan fakta yg sesuai. Kalo ada data baru yang lebih akurat, harusnya mau dong, menerima kenyataan dengan lapang dada. Juga perlu mengingat bahwa, kondisi setiap orang tak ada yang sama persis, tak bisa disamakan satu sama lain. Perbedaan itulah, yang kadang, tak bisa diterima begitu saja oleh sebagian orang.
Lebih lucu lagi, ketika terbukti salah, mereka malah marah, bahkan menyerang saya dengan argumen yg sama sekali tak ada hubungannya dengan diskusi sebelumnya.
Walahhh…

Setahun lalu, anak saya mendapat sebuah vonis dari sebuah rumah sakit.
Shock, jelas lah.
Nangis, ya hampir tiap hari.
Marah, teriak, dsb, dan syukurlah ga sampe bunuh diri, hehe..

Dalam setahun itu, saya bertemu banyak sekali orang yang “nunut” kasi nasib, dengan segala keterbatasan dan ketidaktahuan mereka tentang sebuah proses.

Saya, seperti biasa, berlagak bodoh, “ooo…begitu ya,”

Dianggap bodoh itu lebih menyenangkan, karena tak ada pertanggungjawaban moral untuk omongan kita *ngeles*
“omongane wong bodo kok digape..”
Hehe, ga seekstrem itu sih, just an example.

Dan ternyata, saya makan buah simalakama dari perilaku mendengar dan sikap sok bodoh itu tadi.
Nah lho..

Terlalu banyak yang diserap, sampe saringane jebol.

Tapi ok lah, tak perlu mendendam untuk para pengobral omongan tanpa kajian mendasar. Memaafkan itu mungkin berat, tapi pada jangka panjangnya, jauh lebih meringankan pikiran.

Jika dendam itu disamakan sebagai jeruk busuk, opo ya mau, anda bawa jeruk busuk itu kemana-mana?

Setahun berlalu itu telah memberi saya pelajaran yg sangat bermakna, bahwa mendengar itu seperti menyeduh teh.

Ada yg suka teh, ada yg tidak.
Ada yg mau mendengar, ada yg tidak.

Teh harus diseduh dengan air panas untuk mengeluarkan aroma dan khasiatnya.
Setiap perkataan orang tentang kita, harus dicerna dengan baik, untuk memperoleh makna sebenarnya.

Saya suka teh dengan sesendok kecil gula.
Ada yg suka teh dengan gula beberapa sendok besar.
Saya (berusaha) untuk beranggapan bahwa maksud orang menanyakan, memberitahu, menilai, adalah baik. Tanda mereka perhatian kan.. Hanya saja, cara mereka yang  kadang tidak klop dengan harapan kita. So, mau dilakoni, minum aja teh pahitnya. Mau disesuaikan, ya tambahkan rasa sesuai selera.

Butiran daun teh kering yg diseduh dan disaring, maupun teh celup dalam kantong kertas, selalu meninggalkan butiran halus di dasar cangkir. Kalo anda meminumnya sampe tandas, pasti tersedak kan..
Semua pilihan (untuk mendengar dan mengikuti), ada konsekuensi dan resiko benar salah. Jika terlalu mengamini perkataan orang, beberapa dari kita akan menyalahkan yang memberi saran. Padahal hak bertindak sebab-akibat itu ada di tangan kita. Kalo semua muanya ditelan, ya tersedak itu tadi. Ga enak.

Saya teringat dengan Professor Trelawney di serial Harry Potter yg suka meramalkan nasib melalui sisa daun teh di cangkir.
Percaya pada ramalan? Pernah sih, tapi syukurlah lupa, karena tak baik percaya ramalan itu. Hanya akan membatasi perilaku dan mematok nasib kita sendiri yang belum tentu benar.
Saya lebih melihatnya sebagai residu biasa. Melihat kelihaian seseorang meminum teh sampai tandas, hingga menyisakan beberapa tetes air dan riak daun teh atau butiran halus saringan.
Seberapa pandai seseorang menikmati hidup dengan segala aromanya, membiarkan yang buruk (tak bisa dicerna) sebagai bumbu yg memperkaya rasanya.

Dengan begitu saya berterima kasih pada dokter yang pernah sinis pada kesedihan saya. Waktu dia muncul di tv, saya kok dejavu kemarahan. Mengoyak-oyak memori, sampai kemudian ingat, “oooh, ini dulu yang tidak total dalam melayani pasien,”
Ya sudahlah, semoga dia bisa lebih baik hari ini. Semoga dia bisa baik dengan para pasien yang tidak mampu. Saya sih, ga kaya, tapi masih mampu memberikan terapi dan pengobatan yang baik untuk anak, itu sudah lebih dari cukup.

Juga kepada para terapis yang menggunakan segala kelihaiannya untuk memanfaatkan ketidaktahuan kami, memberikan informasi yang terlalu menakut-nakuti, memberikan vonis tambahan yang sebenarnya di luar wewenangnya, bahkan mengintimidasi dengan halus untuk mengikuti pola yang dia sarankan, yang UUD (ujung-ujungnya duit). Lho, memang semua pengobatan butuh biaya, tapi seperti apa, setransparan apa, dan tindak lanjutnya bagaimana.
Saya paham, bahwa semua orang membutuhkan uang, dengan caranya masing-masing. Sebenarnya kasihan juga, ketika seorang oknum akhirnya konangan “bermain di belakang”. Itu kan berarti mengurangi pemasukan bulanannya. But, hei, siapa suruh dia cari tambahan dengan cara yang tak halal (sesuai aturan dari kantornya)?

Herannya lagi, dengan dokter yang mengatakan bahwa anak saya tak apa, tapi tetap meresepkan obat seharga ratusan ribu untuk ditebus. Demi percepatan fungsi otak sih, katanya, tapi… Ya memang saya termasuk pasien yang ngeyelan mungkin, tapi saya kan saya berhak tahu apa saja yang masuk dalam tubuh anak saya. Apalagi, pemberian obat berlebihan sejak dini, bisa mengarah pada ketergantungan obat di masa dewasanya.

Ah sudahlah, panjang banget jadinya :)
Yang penting saya sudah mulai menemukan titik cerah.
Biarlah uang dan kebodohan yang pernah ada itu, sebagai sebuah mata kuliah tanpa kampus.

-February 2013-

Selasa, 03 Juni 2014

Oh Prospek


scrutinize the prospects ;)
 
Saya duduk di kursi di sebuah restoran Eat and Eat di bilangan jalan Tunjungan, memperhatikan seorang eksekutif muda memainkan layar laptopnya seraya menerangkan kepada saya tentang ini dan itu. Dia menjelaskan mengenai sebuah MLM baru, yang tentu saja dipermanis dengan bahasanya sendiri, dengan sekian metode bahwa ini merupakan peluang yang bagus dalam beberapa than mendatang, sebelum saya ketinggalan.

Awalnya biasa saja ketika dia menjelaskan soal produk dan jangkauan konsumennya, hingga kemudian dia sampai pada tahap uang yang melimpah sebagai hasil kerja keras, mendadak saya pusing. Saya terbayang uang ratusan juta milik nasabah saya dulu yang amblas di pasar bursa indeks. Sebagai manusia biasa yang tak terlalu paham dengan system resiko perputaran uang, ada sebuah guilty feeling, tapi itu tak bisa mengembalikan uang utuh. Uang bisa utuh dengan kehandalan seseorang untuk mengaturnya dengan pengetahuan mengenai saham dan sebagainya. Itupun butuh waktu dan proses panjang, mengikuti fluktuasi pasar. Saya? Boro-boro paham, masih untung dapat 7 untuk mata pelajaran  Ekonomi dan Akuntansi, hehehe

“Jadi bagaimana menurut mbak Esthy, peluang bisnis yang kita tawarkan ini?” tanya si eksekutif yang sedang memprospek.
Saya meringis dan segera sigap mengambil alasan, “Sebentar, saya butuh waktu untuk mencerna, setelah sekian lama saya sibuk dengan urusan rumah dan anak-anak, jadi agak sedikit lag menerima materi sebanyak ini.”
Dia pun tak kalah cepat menanggapi. “Ada lho ibu rumah tangga yang pendapatannya sebulan mencapai puluhan juta rupiah. Cuma kerja dua jam dari rumah…”

Begitu bicara uang, saya sudah tak lagi mendengarkan. Buat saya sih, uang itu akan datang dengan cara yang saya inginkan, saya sukai. Tak selalu harus dengan mencari orang, toh kerja kerasnya sama.
“Mau pilih yang mana, biasa atau platinum? Kerja kerasnya sama, tapi hasilnya beda lho,” katanya masih mengejar, sangat khas marketing.
Saya meringis, ini bukan semata soal uang yang harus ditanam, dengan harga terjangkau itu. Tapi saya pusing membayangkan kerja keras harus membujuk orang supaya mau duduk diam dan menyimak orang bicara, lalu harus belajar lagi tentang perputaran uang yang tak terlalu saya sukai, karena akan mengingatkan lagi tentang uang nasabah yang hilang.

Suami saya yang menunggu di mall Tunjungan Plaza, marah-marah, “Jadi kutunggu selama ini cuma untuk mendengarkan orang prospek?” tanyanya sewot.
Sebelumnya saya memang minta ijin untuk bertemu dengan beberapa teman lama, setelah dua tahun lebih berkutat dengan kesibukan rumah tangga dan anak-anak, dan dia memberi ijin untuk itu.

Bicara soal MLM dan semacamnya, saya ini termasuk sering ikut prospek, seminar, pencerahan, apapun itu namanya, yang hampir semuanya demi menghargai usaha teman yang bersusah payah mengajak. Beberapa teman memang berhasil meyakinkan saya untuk bergabung dengan tujuan dan alasan ini dan itu, bahkan saya sempat mendapatkan prospek beberapa orang. Namun, karena saya moody, semua jenis MLM itu mandheg di tengah jalan. Soal biaya, buat saya tak banyak, saya anggap biaya belajar.

Sebut aja Tianshi, High Dessert, Forever Young, Amway, UFO, Sophie Martin, Tupperware, dan saya lupa mana lagi, yang tentu saja mengandalkan para pemimpin yang berada di puncak “rantai makanan” sebagai bukti keberhasilan. Terkadang para amatir itu dengan sok hebatnya mengejar saya, mengorek apa sih yang menjadi kendala saya dan mereka akan bantu. Beberapa kali saya tersenyum manis saja. Namun jika lagi keluar isengnya, “Semua kerjaan itu butuh niat. Jika saya tak niat, terus cara kerjanya seperti apa,”
Hihihi, dia diam, wajahnya seperti lampu persimpangan, merah kuning hijau.
Kadang juga dengan halus saya kembalikan,
“Saya sudah pernah datang, sudah tahu bagaimana, dan maaf saya tidak tertarik,”
Hehehe, sama saja ya.

Bahkan hingga beberapa minggu terakhir pun, seorang teman yang bekerja secara aktif di MLM online yang booming dengan sebuah nama upline Dini Shanti, mulai cari celah untk memprospek saya. Tuh kan, betapa hebatnya kerja keras para prospector ini.
“Harusnya calon prosprek dibuat nyaman sehingga tertarik. Sini biar eike prospek,” katanya sembari bercanda.
Saya ketawa saja. Aduuuh mbak, saya ini uda keluar masuk MLM dengan berbagai nama, berbagai seminarnya, bahkan sampai keluar duit juga, meski tak sampai hitungan jutaan (sedikit banget kan). Pada intinya sama saja, semua pekerjaan butuh kerja keras jika ingin mencapai hasil yang diinginkan.

Doktrin marketing seringkali mengatakan bahwa semua orang itu bisa bicara, lalu memaparkan bukti banyaknya orang yang sebelumnya pendiam menjadi cas cis cus banyak bicara setelah belajar ilmu arketing. Kebetulan dia juga berbakat. Bukankah ada orang yang terlahir introvert, yang memang susah berhubungan dengan orang baru. Masa harus dipaksa juga?

Bekerja itu dengan hati, biar uangnya banyak atau sedikit, karena kenyamanan itu mahal harganya. Saya sih, lebih nyaman menjadi guru dan penulis, lebih kaya pengalaman yang kemudian bisa menginspirasi banyak orang.

Saya juga berdagang kok, meski dengan hukum yang tak tega. Lha mesti bagaimana, jika menawar pasang muka memelas, memohon supaya bisa mencicil atau membayar sewaktu gajian. Belum lagi, jika mereka belum punya uang untuk membayar, mereka memilih menghindar jika ditagih. Akhirnya, seperti halnya biaya MLM, saya ikhlaskan sudah, duit ratusan ribu itu melayang lagi. Biaya belajar lagi. Jika saya terus-terusan menganggap semuanya sebagai biaya belajar, lalu kapan ujian dan lulusnya? Hehehe…

Sabtu, 31 Mei 2014

Membandingkan Anak


gambar dari sini


“Siapa bilang tak boleh membandingkan anak?” tanya seorang dokter spesialis THT di sebuah rumah sakit swasta.
Saya sedikit terkejut dan segera membenarkan posisi duduk, siap menyimak kelanjutannya.
“Tapi dengan siapa dulu. Seorang anak berhak dibandingkan dengan dirinya sendiri hari ini dengan bulan kemarin, hari ini dengan tahun lalu, ada perkembangan tidak.”
Oooo…
“Jika membandingkannya dengan anak tetangga, anak lain, atau bahkan antara ABK dengan non ABK, itu tak adil buatnya. Semua anak memiliki tahapan perkembangannya masing-masing.”

Ya, setiap anak memiliki tahap perkembangannya msing-masing yang tak bisa disamaratakan. Memang ada patokan khusus dari para ahli, bahwa misalnya, bayi usia 6 bulan harus mulai ngoceh, sebelum usia 2 tahun harus sudah bisa mengucapkan beberapa kata yang mengandung arti sebelum divonis lambat bicara lalu dianjurkan terapi, dan sebagainya. Jika tak sesuai tahap perkembangan, bisa konsultasi kepada dokter spesialis anak, psikolog, atau bahkan berbagi cerita dengan ibu yang berpengalaman hampir sama.

Namun yang terpenting dari semua itu adalah limpahan kasih sayang yang tidak tebang pilih dan menerima anak sebagai anugerah Tuhan terbaik yang diberikan kepada kita. Anak sulung saya adalah seorang ABK tuan rungu. Saya mewajibkan diri untuk menuliskan setiap perkembangannya di sebuah buku harian amburadul. Buku harian yang bersatu dengan coretan kedua anak saya, karena mereka selalu berebut ingin ikut menulis ketika saya memegang bolpen dan buku.  

Dalam buku harian amburadul itu tercatat, apa saja yang saya pernah saya dietkan, terapi yang pernah dijalani (alternative), kemajuan yang pernah dicapainya, dan beberapa hal lain. Ternyata anak saya sudah tidak lagi tantrum, sudah menurut ketika tidak boleh ambil minuman kemasan setiap saya ajak belanja, tak lagi membenturkan kepalanya ketika marah. Yang membuat saya terharu ketika dia berusaha bersusah payah menirukan kata-kata yang diajarkan dalam terapi, namun penangkapannya masih terbatas. Tapi saya tahu dia sudah sangat berusaha. Di lain waktu, saya sering mengintip dia coba menirukan yang diajarkan meski belum sempurna, bahkan sudah hafal jika akan meminta bantuan saya, dia harus bersuara dulu karena saya mewajibkannya.  

Ah, bersyukur, bersyukur, bersyukur.
Sepertinya dulu itu semua tak mungkin, namun dengan menuliskannya saya jadi tahu apa yang pernah terjadi dan sangat bersyukur ketika mengetahui setiap tahap perkembangannya. Bagaimanapun, saya harus menerima bahwa memang tahapnya tak sama dengan anak normal seusianya. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Semua anak berhak memiliki catatan pribadi perkembangannya masing-masing, demi menyadari betapa Tuhan tak pernah berhenti menurunkan karuniaNya.   

Jumat, 30 Mei 2014

Cita-cita


gambar dari sini
 
Imagination is more important than knowledge.
Education is what remains after one has forgotten what one has learned in school.
(Albert Einstein)


“….. duluuu, jaman kita masih pada kecil, tanaman hanya dipanen sekali dalam setahun. Sekarang, tanaman bisa dipanen hingga tiga kali dalam setahun. Kok bisa? Ya pakai obat-obatan yang bisa mempercepat pertumbuhannya…..” cerita seorang ibu, seorang agen produk organic yang sedang promosi bakulannya.
Sambil kejar-kejaran dengan anak-anak, saya hanya bisa sedikit menyimak. Lalu memikirkan kenapa itu bisa terjadi ya. Padahal jika dipikirkan lebih mendalam, kurang apa sih Indonesia ini, dijajah sampai sekian ratus tahun hingga nekat proklamasi kemerdekaan meski hanya beberapa Negara yang mengakuinya, tambangnya dikeruk habis-habisan hingga bisa menghidupi sebagian rakyat negara lain, kebakaran hutan berkali-kali, illegal logging, pencurian kebudayaan, dan masih banyak lagi; yang anehnya belum membuat kita “terlihat” melarat. Masih bisa anteng ayem nonton acara gossip di tv hingga bikin acara debat professional, dengan dalih menemukan solusi masalah bangsa.

Simak obrolan lugu dua anak TK berikut ini,
“Aku mau jadi Ultraman kalau gede nanti,”
“Eh, tak boleh punya cita-cita kayak gitu. Cita-cita itu ya jadi dokter, pilot, insinyur,…”
“Biarin, pokoknya aku mau jadi Ultraman,” katanya bersikukuh, dan mereka kembali melanjutkan permainan perang-perangan.
Begitulah, gambaran cita-cita dalam benak anak-anak. Ga nyalahin, saya sendiri juga gitu kok. Rasanya waktu sekolah dulu, kerja ya jadi dokter, perawat, pilot, dan semacamnya yang termasuk ngawulo. Tak ada kok yang bercita-cita jadi tukang bakso atau tukang bubur, meskipun dalam segi pendapatan bisa jadi mereka lebih besar. Memang, pendidikan formal kita tidak mencetak penemu, inisiator, pionir, namun mencetak kawulo, pengikut, pekerja.

“Semua anak harus bisa menggambar. Bangsa yang terbiasa menggambar, akan menjadi bangsa pencetus, jika tak bisa, maka hanya akan menjadi bangsa penyontek,” kata Dik Doank, yang aktif dengan Kandank Jurangk Doanknya.
Mendadak saya mikir, saya tak bisa menggambar tuh. Tiap kali disuruh menggambar, selalu saja menggambar sawah dengan centang, gunung, lalu jalan yang berkelok. Pokoknya pelajaran seni itu momok buat saya. Juga pelajaran olahraga yang selalu bikin trauma dan deg-degan, karena saya tak mahir urusan olah tubuh. Memang sih, berguna untuk kesehatan, tapi kalau demi mengejar nilai sampe adem panas, huaah. Begitu lulus sekolah, satu hal yang membuat saya bahagia adalah tak ada lagi pelajaran olahraga dan menggambar.

Ingin rasanya melihat seorang guru berdiri di depan kelas dan bertanya,
“Siapa ingin jadi seperti Bob Sadino?”
“Siapa ingin jadi seperti Bill Gates, Steve Jobs, Mark Zuckerberg?”
“Siapa ingin jadi petani?”
“Siapa ingin hidup di Kalimantan dan tinggal di hutan bersama banyak hewan dan melestarikannya?”
“Siapa mau jadi penambang?”
“Siapa mau jadi kontraktor bangunan?”

Begitu terjun ke dunia kerja, buanyak sekali profesi yang tak dikenalkan di masa sekolah, halal, dan bahkan bisa menghasilkan pundi-pundi hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya. Kenyataan lagi, tak semua dokter berhasil untuk mendapat kerja praktek dan langsung kaya, dan sebagainya. Bahkan ada yang bilang profesi guru itu tidak menjanjikan gaji besar. Belum lagi sebuah doktrin dari para sesepuh yang mendambakan anaknya menjadi pegawai negeri, dengan alasan mendapatkan pension dan ayem di hari tuanya.


Apabila engkau bekerja dengan sungguh-sungguh, berarti engkau memenuhi sebagian cita-cita itu yang pada hakikatnya engkau mencintai kehidupan -Kahlil Gibran-

Working is not only about price, it is also about value.
Lihat bagaimana tentara Inggris menunaikan kewajibannya dengan berdiri tegak selama sekian jam, atau polisi Jepang yang rela berjibaku dengan salju demi kenyamanan warga dan tidak bersedia menerima tips. “Pembentukan hati” itu bukan sekali jadi, itu butuh proses dalam bertahun-tahun, melalui penanaman berulang dan konsisten, melalui komunitas legal yang diakui dan lingkungan yang bersinergi.

Sebuah perusahaan media ternama di Indonesia yang bisa bertahan hingga puluhan tahun dengan gaya sama yang sangat khas dan evergreen, mengungkapkan bahwa nilai utama yang mereka utamakan pada pencarian karyawan adalah integritas kejujuran. “Ilmu bisa dipelajari dan dicari, namun akhlak itu membentuknya butuh waktu bertahun-tahun,”.

Jadi seberapa besar cinta kita dengan pekerjaan yang kita jalani ini, sehingga kita bisa memancarkan sebuah citra regenerasi yang baik. Semua memang harus dimulai dari keluarga, tentang bagaimana masing-masing orang tua menanamkan berbagai jenis nilai kehidupan kepada anak-anaknya. Bisa saja petani mencintai pekerjaanya dan meminta anaknya menjadi petani, demi meneruskan usaha keluarga misalnya. Namun mereka harus terhambat dengan (lagi-lagi) kebijakan impor yang membunuh swadaya dalam negeri. Tak hanya itu, pengkotakan profesi, atau pengenalan profesi yang tak beragam kepada anak-anak usia sekolah dasar, membuat mereka memiliki batas dalam bermimpi.

Anak-anak itu harapan kesinambungan bangsa. Saya pikir, anak-anak memang harus dikenalkan dengan berbagai jenis profesi, sejak dini, daripada harus berkutat dengan pelajaran teoretis yang pada akhirnya tak dipakai, hanya buang uang dan waktu saja. Pengenalan itu sebagai bentuk usaha regenerasi, bahwa masih banyak lapangan pekerjaan yang membutuhkan boss maupun tenaga kerja. Masih banyak tanah di pelosok negeri yang belum terjamah kemajuan dan peradaban. Bahkan, menurut Trinity, ada banyak pulau perawan, yang entah bagaimana ceritanya, sudah dimiliki orang asing sebagai tempat menyepi dari bingar.

Jangan melulu menyalahkan pemerintah deh, mereka terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Saatnya kita juga ikut bergerak demi masa depan anak-anak kita sendiri. Mari siapkan mereka untuk memahami dengan melihat langung, mengalami, hingga memampukan mereka untuk menjalaninya sendiri.


If money is your hope for independence you will never have it. The only real security that a man can have in this world is a reserve of knowledge, experience, and ability.
- Henry Ford

Susahnya Jadi Anak-anak


nama kerennya ular naga, saya menyebutnya krupukan :)


Saya pernah ingin menjadi anak-anak terus, supaya tak terlibat dalam urusan orang dewasa yang begitu rumit, pelik, butuh banyak mikir. Enakan lihat kartun tiap hati, maen lompat tali, kejar-kejaran sama ibu karena malas mandi, ups, hingga makan apa aja tinggal minta duit ke ortu *abaikan, keinginan bodoh ini*

Makan es krim sambil sembunyi karena dulu urusan jajan sangat ketat, tak ada persaingan merk chiki macam jaman sekarang, juga karena duit yang sangat terbatas.
Tak hanya itu, karena dulu suka banget dengan kartun Donal Bebek, saya juga pernah ingin di dunia yang serba datar dan mulus hingga enak ditempati, tanpa tantangan dan halangan yang berarti.

Saya juga sering merasa pusing jika memikirkan sesuatu secara berlebihan dan segera mengimbanginya dengan mencari guyonana bersama teman atau nonton kartun lucu.

Tak perlu memikirkan bagaimana menjalani hubungan cinta, marahan, cemburu, emosi.

Di saat hari raya, saya siapkan tas kecil untuk galak hampil ke tetangga seraya berharap segepok uang dari kerabat yang pasti lebih banyak. Di akhir lebaran menuju saat masuk sekolah, saya hitung duit lalu melenggang menuju sebuah toko demi mendapatkan barang impian dengan uang hasil “kerja” saya selama beberapa hari dalam setahun. 

Menunggu datangnya majalah Bobo seminggu sekali, untuk berebut atau bergantian dengan kakak saya. Ada saat saya mewek mewek mendapati bahwa majalah saya diloakkan dan dijualbelikan oleh teman-teman yang rakus itu.

Pernah main bikin "adonan" dari tanah yang dicampur dengan air, meniru ala tukang masak begitu. Berdua dengan seorang teman, kami "mengolahnya" di teras rumah tetangga. Ibu tetangga itu hanya berkomentar betapa joroknya kami, namun beliau tak menghubungi orang tua saya demi perbuatan "kotor"  di teras rumahnya.
 
Maiiiiin terus sampai maghrib menjelang, sampai ibu mencari sembari marah-marah, ngomel panjang lebar, tapi saya sama sekali tak dengar tuh, ibu bicara apa, hehehe….

Lihat seorang yang menakutkan (wajahnya), saya akan lari sekencang mungkin menghindarinya. Padahal tak ada yang salah dengannya, hanya tampangnya saja menakutkan, namun dia tak pernah berbuat yang merugikan orang lain. Lihat ternyata ada keluarga jauh dari pihak ibu ada yang lebih menakutkan, saya akan berteriak menangis dan dia akan menjauh. Mereka akan memaklumi bahwa itu semua karena saya masih anak-anak. Bahkan ketika saya lari menjauh dari rumah karena ngambek, kakak saya akan siap mengejar, berusaha menyelamatkan saya dari ganasnya jalanan.

Sementara di sekolah, jika ada guru yang tak beres, tinggal pilih berurusan dengan guru yang aman. Tak perlu lah sampai repot memperkarakan hingga orang tua turun tangan. 
Ada juga teman yang keluarganya berantakan, tapi berhubung dia dekat dengan banyak anak, dia baik-baik aja (semoga hingga hari ini), tak ada yang membatasinya.

Sekarang…
Ada godaan jaman berupa teknologi tanpa henti.

Ada sekat patembayan yang memicingkan mata ketika anak-anak bergerak galak gampil.

Ada banyak zat beracun dalam makanan.

Ada banyak “muatan” dewasa dalam kartun anak-anak.

Main lama, berbahaya, kemana aja dan ketemu siapa aja. Main dengan pakaian minim juga mulai mengundang pikiran yang aneh.

Jika memilih sekolah, dengan mencuatnya kasus pedofil, bukan lagi pelajaran dan pengajarannya bagaimana, mulai ada pilihan di mana letak toiletnya, siapa dan bagaimana guru dan para pekerja di lingkungannya,

Masih SD bisa maen komputer, udah kelihatan keren banget. Sekarang, balita aja bisa maenan tab.

Anak-anak TK sudah mulai dikenalkan pada banyak les, waktu bermain dibatasi, bahkan halaman rumah pun sempit, hanya cukup untuk mobil dan tumpukan mainan bermerk. 

Jika keluar tak memakai sandal atau mainan pasir, siap-siap aja mendengar teriakan orang tuanya, "becek, kotor, cacingan, bla bla bla..."

Kita memang tak bisa memilih jaman harus menjadi seperti kita dulu. Itu semua keputusan pribadi kok, mau mengikuti perubahan yang semakin bervariasi yang berimbas menyempitnya interaksi  fisik yang sosial atau mau membuat alur perubahan sendiri.  

Selasa, 27 Mei 2014

Hijrah Diri




reflection of hijrah
“Kenapa kamu gak mau pake odol? Konspirasi lagi ya?” todong seorang teman.
“Hehe, iya, tapi aku masih harus cari sumber lain lagi, beneran tidaknya,” jawab saya pendek, tak mau menerangkan lebih lanjut.
“Aku tetep pakai odol aja ah, isis. Lagian kamu ini, apa-apa selalu dihubungkan dengan konspirasi,”
“Gak lah, gak semua,” kata saya membela diri. Padahal saat itu saya sedang berjuang mati-matian melawan buncah kegalauan tentang “sempitnya” dunia maya, karena bisa menemukan apapun yang menggalaukan iman dan hati. Sampai sempat terpikir, jangan-jangan dunia ini sudah dikuasasi oleh Yahudi, yang lain ngontrak, hehehe..
“Aku cerita ke suamiku kalau kamu tuh suka menghubungkan apa-apa dengan  konspirasi. Lalu aku tanya apakah suamiku percaya konspirasi dan jawabannya tidak,” tambahnya.
Saya hanya tersenyum dan tidak berusaha menunjukkan sekian bukti dari berbagai sumber maya. Enggak ah, ntar dikira gila beneran, repot saya ini, hehehe… Meskipun, dari sekian halaman maya yang pernah mampir dalam benak, ada juga yang berkorelasi dengan Al Qur’an, menggelitik analisa pribadi yang mencoba menghubungkan banyak hal berkesinambungan, hingga kemudian berusaha berdiskusi dengan beberapa orang yang cukup tahu, syukurlah, ada yang mengamini.
I wasn’t the one crazy, lunatic, insane, out of my mind, or whatsoever. We’re about to get crazy about the world. No, no, no we’re going to be as crazy as the world inside, hahaha….

Don’t blame the web, blame your curious thumb.

Saya pribadi tak bisa sepenuhnya menyalahkan internet, teknologi tetap dibutuhkan, namun harus dalam pengendalian yang ketat, mengingat mudharatnya bukan urusan main-main. Sometimes, clash of opinions may distract your way. Salah saya juga, kenapaaa juga mesti berkelana ke berbagai halaman ajaib, tanpa menyadari bahwa kapasitas otak saya juga punya batas, hehehe… Sisi positifnya adalah, saya mulai membangun sebuah “benteng”, demi kesehatan mental dan spiritual.
Hingga suatu kali saya sudah cukup bisa menahan bercerita tentang konspirasi serta sekian jenis perang pemikiran atau bahasa kerennya ghawzul fikri, memandangnya lebih santai karena sudah mulai menemukan benang merahnya. Sedangkan teman saya tadi mulai merasa serius soal konspirasi, eh, saya belum konfirmasi ulang. *tolong jangan jitak saya, ya*

Your good friend may not always agree with you, but you both can take the good side of every clash. You may argue in some part, but you don’t mix them up with another thing.

She’s getting better.
“Aku sebenarnya pengen ajak kamu ke pengajian, tapi jauh,” katanya suatu hari.
“Andaikan anakku masih kecil banget atau malah sudah gede, jadi bisa kubawa atau kutinggal sekalian,” tukas saya menolak, tanpa berpikir panjang lagi.
Actually I don’t like to think of another reason. Any kind of reason is just a way to escape from something you don’t wanna strive hard. Saya lebih memilih bukan karena keadaan, tapi saya belum cukup berusaha. Semisal, para pejuang Palestina yang berada di bawah ancaman ranjau dan granat setiap saat, masih bisa kok menghasilkan ribuan hafidz dan hafidzah. Sedangkan kita yang aman nyaman sentosa di negeri yang kaya raya, mesti didukung dengan langkah ODOJ, setoran hafalan surat, dan sebagainya. See, comfort pests you gradually.

Jauuuuh hari sebelumnya, saya menyampaikan keinginan saya untuk berhijab panjang yang maju mundur. Well, we do know that they are stated in the holy book, but talking about it may make us too intelligent, jannah-addicted, and universally-restricted *or am I the only one, hehehe*
“Ya tetap beragama, tapi sudahlah jangan terlalu fanatic. Tetap pakai hijab tapi yang biasa aja,” katanya “mengingatkan”.
Tak perlu berusaha berargumen panjang lebar mengapa, biarkan dia mencarinya sendiri, I just said the bait, hehehe… Busana memang hanyalah lambang, namun busana adalah bagian dari resonansi beragama di jalan yang lebih tepat. Soal busana kemudian dijadikan tabarruj, itu cerita lain.
 
Ketika anda sudah mencapai satu langkah kemajuan, seharusnya yang baik adalah mengajak dan mendorong teman dekat untuk bisa melangkah bersama. Saya sempat sungkan juga menunjukkan perubahan bahwa saya sedang berusaha memakai penutup di manapun saya berada, kecuali mandi dan tidur. In fact, she took it positively. I didn’t even try to influence her to copy what I did. 
“Aku kan mau juga sepertimu, yang pakai hijab setiap saat,” katanya.
Glek, saya bahagia lagi, karena saya ikut jadi bagian hijrah ke arah yang lebih baik. sementara saya masih jalan di tempat. Memang sih sudah hijaban terus, bahkan para “satpam” kecil saya selalu mengingatkan kalau saya meleng sedikit saja. Tapiiii pas menyapu halaman atau menjemur cucian, masih suka risih dengan cara menaikkan rok atau celana supaya tak menutupi mata kaki, hehehe…
Teman saya ini, yang sempat tak berkenan dengan hijab panjang, berjalan jauh lebih cepat dan progresif. Rajin ikut pengajian, beberapa kali obrolan saya mulai akrab dengan kata murojah, liqo, tartil, yang saya sama sekali tak tahu artinya, it’s my origin forgetfulness. Dia juga memakai busana syar’i, yang serba panjang dan tak melekuk tubuh itu, dan mulai membersihkan lemari dari banyak busana yang tak lagi “layak pakai”.

“I was so liberal,” akunya suatu saat, seraya bercerita sekian pengalaman beragama yang benar-benar standard. Saya jadi sangat berhati-hati ketika misalnya, ingin menyampaikan keajaiban sedekah, sebagai solusi alternative pada beberapa masalah yang dia hadapi. I failed actually, she needed reason for something I couldn’t explain and I did believe that any miracle is individual. Keajaiban adalah pemenuhan kebutuhan setiap orang, dalam posisi superior. Sedekah adalah salah satu bagian untuk menjemput keajaiban, tapi itu bukan berarti sedekah dalam jumlah sama dari orang yang berbeda akan memberikan imbas yang sama pada mereka.

 “Since I decided to quit (the previous job), I have more time to do anything. Lebih nyaman, karena lebih banyak waktu untuk menunaikan ibadah, meski tetap bisa bekerja mencari uang.”

Saya menunggu, menunggu, menunggu, ijin untuk menuliskan sekelumit tentang hijrahnya.
“Pasti karena postinganku soal syiah tadi siang ya,” todongnya, ketika saya minta ijin untuk menuliskannya.
“Lho kan masih banyak yang menganggapnya sebagai sebuah aliran saja. Tidak berbahaya,” kata saya.
“Kata siapa tidak berbahaya?” tukasnya meradang.
Hehehe, alhamdulillah. 
Sebenarnya saya juga ikut menunggu saat sampai mana dia berjalan, supaya saya bisa ikut mengetahui jawaban beberapa ghawzul fikri yang tak bisa didiskusikan dengan semua orang. Lumayaaan, belajar agama dengan lebih santai, ga perlu keluar rumah, kadang lewat chatting atau pas tukar menukar barang dagangan.

Untuk menjalani sebuah pilihan, sebenarnya kita selalu membutuhkan alasan kuat mengapa, supaya lebih mantap menjalaninya. Ketika nantinya menemui tantangan akan keberadaannya, kita masih sanggup untuk berdiri tegak di atas tanah yang kita pijak. Ikut-ikutan atau menurut tanpa sebab yang jelas, bukanlah alasan yang kuat untuk bertahan. 
Menyadari dunia yang semakin tua, adalah menyadari bahwa kita akan ikut lapuk di dalamnya, kecuali hal mutlak yang tak kasat mata yang tercatat dalam amalan.

“Menurut penelitian, usia kita ini, antara 30-40an adalah usia menuju kematangan spiritual, mulai menuntut diri untuk belajar lebih banyak tentang agama,” jelasnya.
Saya tercenung, waah, lama banget ya proses pemahaman saya yang sudah mengenal agama sejak usia sekolah dasar. Tak heran jika salah satu amalan keren adalah menghabiskan masa muda (remaja) untuk beribadah. Lalu jika usia ini adalah puncak kematangan spiritual, lalu apa sesudahnya, membentuk kurva yang seperti apa. Bisakah membayar carut marut dan kebodohan hari kemarin dengan kekhusyuan hari ini? Bisakah menebus semua dosa yang pernah sengaja dilakukan dengan ketaatan hari ini?

Namun kekuatiran itu (diusahakan) senyap perlahan begitu mengingat bahwa iman itu seperti mandi dan makan. Kita mandi dan makan setiap hari, beberapa kali dalam sehari, dengan kemungkinan sakit, tertular virus, terkena bakteri, dan penyakit lainnya. Kemungkinan juga mengalami bau badan ketika terjadi perubahan hormonal, juga ketika membersihkan ikan yang amis atau sering lewat penampungan sampah, juga ketika makan yang berbau tajam seperti bawang bersaudara. Kemungkinan juga sakit perut jika yang dimakan barang yang tak benar, haram, atau logisnya, tak sinkron dengan metabolisme tubuh. Tapi tetap kita harus mandi dan makan dengan dengan cara yang lebih baik, supaya bertahan hidup. Jika perlu, disambung dengan lulur dan facial sekali waktu dalam sebulan. Begitulah iman. Bukan berarti beragama itu cukup aman dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, namun juga tekun menjalani hingga mencari resonansi "milieu" yang tepat.


"Hijrah will not cease until repentance becomes useless; and repentance will not become useless until the sun rises from the West."
 
(Abu Dawud)